A.
Konsep Dasar
1.
Pengertian
Benigna
Prostat Hiperplasi ( BPH ) adalah pembesaran
jinak kelenjar prostat, disebabkan oleh
karena hiperplasi beberapa atau semua
komponen prostat meliputi jaringan kelenjar /
jaringan fibromuskuler yang menyebabkan
penyumbatan uretra pars prostatika ( Lab /
UPF Ilmu Bedah RSUD dr. Sutomo, 1994
: 193 ).
Pendapat
lain mengatakan bahwa BPH adalah
pembesaran progresif dari kelenjar
prostat ( secara umum pada pria lebih
tua dari 50 tahun ) menyebabkan
berbagai derajat obstruksi uretral
dan pembatasan aliran urinarius ( Marilynn,
E.D, 2000 : 671 ).
Dari kedua pengertian tersebut
maka penulis menyimpulkan bahwa BPH adalah
pembesaran progresif dari kelenjar prostat,
bersifat jinak disebabkan oleh hiperplasi
beberapa atau semua komponen prostat yang
mengakibatkan penyumbatan prostatika dan umumnya
terjadi pada pria dewasa lebih dari
50 tahun.
Reseksi Transuretra pada Prostat (
TURP ) adalah pengangkatan
sebagian atau
seluruh kelenjar prostat melalui sistoskop
atau resektoskop yang dimasukkan melalui
uretra (Susan, M.T, 1998: 607).
Sedangkan tokoh
lain mengatakan bahwa TURP adalah
prostat obstruksi dari
lobus medial sekitar uretra
diangkat dengan sistoskop atau
resektoskop dimasukkan melalui
uretra ( Marilynn, E.D, 2000 : 679 ).
Maka
pengertian TURP menurut kesimpulan penulis
adalah pengangkatan sebagian atau seluruh
kelenjar prostat yang telah menyebabkan
obstruksi uretra dengan sistoskop atau
resektoskop yang dimasukkan melalui uretra.
2. Faktor
- faktor yang mempengaruhi
a. Anatomi
fisiologi
Kelenjar
prostat terletak tepat dibawah buli –
buli dan mengitari uretra. Bagian
bawah kelenjar prostat menempal pada
diafragma urogenital atau sering disebut
otot dasar panggul. Kelenjar ini pada laki
- laki dewasa kurang lebih sebesar
buah kemiri, dengan panjang
sekitar 3 cm, lebar
4 cm dan tebal kurang lebih 2,5
cm. Beratnya sekitar 20 gram. Prostat
terdiri dari jaringan kelenjar,
jaringan stroma ( penyangga )
dan kapsul. Cairan yang dihasilkan kelenjar
prostat bersama cairan dari vesikula
seminalis dan kelenjar cowper merupakan komponen
terbesar dari seluruh cairan semen. Bahan –
bahan yang terdapat dalam cairan semen
sangat penting dalam menunjang fertilitas,
memberikan lingkungan yang nyaman dan
nutrisi bagi spermatozoa serta proteksi
terhadap invasi mikroba.
Kelainan
pada prostat yang dapat mengganggu proses
reproduksi adalah keradangan ( prostatitis ).
Kelainan yang lain seperti
pertumbuhan yang abnormal ( tumor )
baik jinak maupun ganas tidak
memegang peranan penting pada proses
reproduksi tetapi lebih
berperan pada terjadinya gangguan aliran
urin. Kelainan yang disebut belakangan
ini manifestasinya biasanya
pada laki - laki usia
lanjut ( FK UNAIR / RSUD dr. Soetomo
: 19 ).
b.
Patofisiologi
Pembesaran
prostat menyebabkan penyempitan lumen
uretra prostatika dan akan menghambat
aliran urin. Keadaan ini dapat
meningkatkan tekanan intravesikal. Sebagai kompensasi
terhadap tahanan uretra prostatika, maka
otot detrusor dari buli - buli
berkontraksi lebih kuat untuk dapat memompa
urin keluar. Kontraksi yang terus -
menerus menyebabkan perubahan anatomi dari
buli - buli berupa :
hipertropi
otot detrusor, trabekulasi, terbentuknya selula,
sakula dan difertikel buli - buli.
Perubahan
struktur pada buli - buli dirasakan
klien sebagai keluhan pada saluran kemih
bagian bawah atau Lower Urinary Tract
Symptom / LUTS (Basuki, 2000 : 76).
Puncak
dari kegagalan kompensasi adalah ketidakmampuan
otot detrusor memompa urine dan terjadi retensi
urine. Retensi urin yang kronis dapat
mengakibatkan kemunduran fungsi ginjal ( Sunaryo,
H, 1999 : 11 ).
c.
Etiologi
Penyebab
yang pasti dari terjadinya BPH sampai
sekarang belum diketahui. Namun yang pasti
kelenjar prostat sangat tergantung pada
hormon androgen. Faktor lain yang erat
kaitannya dengan BPH adalah proses
penuaan
Karena
etiologi yang belum jelas maka
melahirkan beberapa hipotesa yang diduga
timbulnya hiperplasi prostat antara lain :
1). Dihydrotestosteron
Peningkatan 5 alfa
reduktase dan reseptor androgen menyebabkan epitel dan
stroma dari kelenjar prostat mengalami hiperplasi
.
2). Perubahan
keseimbangan hormon estrogen - testoteron
Pada proses
penuaan pada pria terjadi peningkatan
hormon estrogen dan penurunan testosteron
yang mengakibatkan hiperplasi stroma.
3).
Interaksi stroma - epitel
Peningkatan epidermal gorwth
factor atau fibroblast growth
factor dan penurunan transforming growth
factor beta menyebabkan hiperplasi stroma
dan epitel.
4).
Berkurangnya sel yang mati
Estrogen yang meningkat
menyebabkan peningkatan lama hidup stroma
dan epitel dari kelenjar prostat.
5).
Teori sel stem
Sel stem yang
meningkat mengakibatkan proliferasi sel
transit ( Roger Kirby, 1994 : 38 ).
d.
Diagnosis
Untuk menegakkan diagnosis
BPH dilakukan beberapa cara antara lain :
1).
Anamnesa
Kumpulan gejala pada
BPH dikenal dengan LUTS (Lower Urinary
Tract Symptoms) antara lain: hesitansi,
pancaran urin lemah, intermittensi, terminal
dribbling, terasa ada sisa setelah miksi
disebut gejala obstruksi dan gejala
iritatif
berupa urgensi, frekuensi
serta disuria. IPSS (International Prostate Symptoms
Score) adalah kumpulan pertanyaan yang
merupakan pedoman untuk mengevaluasi beratnya
LUTS. Keadaan klien BPH dapat ditentukan
berdasarkan skor yang diperoleh :
a). Skor 0 -
7 = gejala ringan.
b). Skor 8 - 19
= gejala sedang.
c). Skor 20 – 35 = gejala
berat.
2).
Pemeriksaan Fisik
Dilakukan
dengan pemeriksaan tekanan darah, nadi dan
suhu. Nadi dapat meningkat pada keadaan
kesakitan pada retensi urin akut, dehidrasi
sampai syok pada retensi urin serta
urosepsis sampai syok - septik. Pemeriksaan
abdomen dilakukan dengan tehnik
bimanual untuk mengetahui adanya
hidronefrosis, dan pyelonefrosis. Pada daerah
supra simfiser pada keadaan retensi akan
menonjol. Saat palpasi terasa adanya
ballotemen dan klien akan terasa ingin
miksi. Perkusi dilakukan untuk mengetahui ada
tidaknya residual urin. Penis dan uretra
juga diperiksa untuk mendeteksi kemungkinan
stenose meatus, striktur uretra, batu
uretra, karsinoma maupun fimosis. Pemeriksaan
skrotum untuk menentukan adanya epididimitis.
Rectal touch
/
pemeriksaan colok dubur bertujuan untuk menentukan
konsistensi sistim persarafan unit vesiko
uretra dan besarnya prostat. Dengan rectal
toucher dapat diketahui derajat dari BPH,
yaitu :
a). Derajat I =
beratnya 20 gram.
b). Derajat II =
beratnya antara 20 – 40 gram.
c).
Derajat III = beratnya 40 gram.
3).
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan
darah lengkap, faal ginjal, serum
elektrolit dan kadar gula digunakan untuk
memperoleh data dasar keadaan umum klien.
Pemeriksaan urin lengkap dan kulturnya juga
diperlukan. PSA (Prostatik Spesific Antigen) penting
diperiksa sebagai kewaspadaan adanya keganasan.
4).
Pemeriksaan Uroflowmetri
Salah satu gejala dari
BPH adalah melemahnya pancaran urin. Secara
obyektif pancaran urin dapat diperiksa
dengan uroflowmeter dengan penilaian :
a). Flow
rate maksimal 15 ml / dtk =
non obstruktif.
b). Flow
rate maksimal 10 – 15 ml / dtk = border line.
c). Flow rate
maksimal 10 ml / dtk = obstruktif.
5).
Pemeriksaan Imaging dan Rontgenologik
a).
BOF (Buik Overzich
Untuk
melihat adanya batu dan metastase pada
tulang.
b). USG (Ultrasonografi)
Digunakan untuk memeriksa
konsistensi, volume dan besar prostat
juga keadaan buli – buli termasuk residual
urin. Pemeriksaan dapat dilakukan secara
transrektal, transuretral dan supra pubik.
c). IVP (Pyelografi Intravena)
Digunakan
untuk melihat fungsi exkresi ginjal dan
adanya hidronefrosis. Dengan IVP, buli – buli dilihat
sebelum, sementara dan sesudah isinya
dikosongkan. Sebelum, untuk melihat adanya intravesikal
tumor dan divertikel. Sementara (voiding
cystografi), untuk melihat adanya reflux
urin. Sesudah (post evacuation), untuk
melihat residual urin.
6). Pemeriksaan Panendoskop
Untuk
mengetahui keadaan uretra dan buli – buli
(Sunaryo, H, 1999 : 11-21).
e.
Penatalaksanaan
Modalitas terapi BPH adalah
:
1).
Watchful (observasi)
Yaitu pengawasan berkala
pada klien setiap 3 – 6 bulan
kemudian setiap tahun tergantung keadaan klien
2).
Medikamentosa
Terapi ini diindikasikan
pada BPH dengan keluhan ringan, sedang,
dan berat tanpa disertai penyulit serta
indikasi terapi pembedahan tetapi masih
terdapat kontraindikasi atau belum “well
motivated” Obat yang digunakan
berasal dari: phitoterapi (misalnya:
Hipoxis rosperi, Serenoa repens, dll), gelombang alfa
blocker dan golongan supresor androgen.
3).
Pembedahan
Indikasi pembedahan pada
BPH adalah :
a).
Klien yang mengalami retensi urin akut
atau pernah retensi urin akut.
b).
Klien dengan residual urin 100 ml.
c).
Klien dengan penyulit.
d).
Terapi medikamentosa tidak berhasil.
e).
Flowmetri menunjukkan pola obstruktif.
Pembedahan
dapat dilakukan dengan :
a).
Pembedahan biasa / open prostatektomi.
b).
TURP.
TURP dilakukan dengan memakai
alat yang disebut resektoskop dengan suatu lengkung diathermi.
Jaringan kelenjar prostat diiris selapis demi
selapis dan
dikeluarkan melalui
selubung resektoskop. Perdarahan dirawat dengan memakai
diathermi, biasanya
dilakukan
dalam waktu 30 sampai 120 menit, tergantung
besarnya prostat. Selama operasi dipakai irigan
akuades atau cairan isotonik tanpa
elektrolit. Prosedur ini dilakukan
dengan anastesi
regional ( Blok Subarakhnoidal
/ SAB / Peridural ). Setelah itu dipasang kateter nomer Ch.
24 untuk beberapa hari. Sering dipakai kateter bercabang tiga atau satu saluran
untuk spoel yang mencegah terjadinya pembuntuan oleh
pembekuan darah. Balon dikembangkan dengan mengisi
cairan garam fisiologis atau akuades
sebanyak 30 – 50 ml yang digunakan sebagai
tamponade daerah prostat dengan cara
traksi selama 6 – 24 jam.Traksi dapat dikerjakan
dengan merekatkan ke paha klien atau
dengan memberi beban (0,5 kg) pada
kateter tersebut melalui katrol. Traksi
tidak boleh lebih dari 24 jam karena
dapat menimbulkan penekanan pada uretra bagian
penoskrotal sehingga mengakibatkan stenosis buli –
buli karena ischemi. Setelah traksi
dilonggarkan fiksasi
dipindahkan pada paha
bagian proximal atau abdomen bawah.
Antibiotika profilaksis dilanjutkan beberapa jam atau
24 – 48
jam pasca bedah. Setelah urin yang keluar
jernih kateter dapat dilepas .Kateter biasanya
dilepas pada hari ke 3 – 5. Untuk pelepasan kateter,
diberikan antibiotika 1 jam sebelumnya untuk mencegah
urosepsis. Biasanya klien boleh pulang
setelah miksi baik, satu atau dua
hari setelah kateter dilepas (Doddy, M.S, 2000
: 6 ).
4).
Alternatif lain (misalnya: TUIP, TUBD,
Kriyoterapi, Hipertermia, Termoterapi, TUNA, Terapi
Ultrasonik dan TULIP.
3. Dampak
Masalah
Setiap perubahan
yang terjadi selalu menimbulkan dampak.
Begitu juga dengan individu yang telah
dilakukan tindakan TURP akan mengalami
perubahan baik yang mempengaruhi individu,
keluarga maupun masyarakat.
a. Dampak
bagi individu
Dampak
yang sering muncul pada klien
pasca TURP antara lain :
1).
Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
Timbulnya
perubahan pemeliharaan kesehatan
karena tirah baring selama
24 jam pasca TURP. Adanya
keluhan nyeri karena spasme buli - buli memerlukan
penggunaan antispasmodik
sesuai terapi dokter ( Marilynn, E.D,
2000 : 683).
2).
Pola nutrisi dan metabolisme
Klien yang dilakukan
anasthesi SAB tidak boleh makan dan
minum sebelum flatus.
3).
Pola eliminasi
Pada klien dapat
terjadi hematuri setelah tindakan TURP.
Retensi urine dapat terjadi bila terdapat
bekuan darah pada kateter. Sedangkan inkontinensia
dapat tejadi setelah kateter dilepas (
Sunaryo, H, 1999: 235 ).
4).
Pola aktivitas dan latihan
Adanya keterbatasan
aktivitas karena kondisi klien yang lemah
dan terpasang traksi kateter selama 6 – 24
jam. Pada paha yang dilakukan perekatan
kateter tidak boleh fleksi selama traksi
masih diperlukan.
5).
Pola tidur dan istirahat
Rasa nyeri dan
perubahan situasi karena hospitalisasi
dapat mempengaruhi pola tidur dan
istirahat.
6). Pola kognitif perseptual
Sistem
Penglihatan, Pendengaran, Pengecap, peraba dan Penghidu
tidak mengalami gangguan pasca TURP.
7).
Pola persepsi dan konsep diri
Klien dapat mengalami
cemas karena kurang pengetahuan tentang
perawatan serta komplikasi BPH pasca TURP.
8).
Pola hubungan dan peran
Karena klien harus
menjalani perawatan di rumah sakit, maka
dapat mempengaruhi hubungan dan peran klien
baik dalam keluarga, tempat kerja, dan
masyarakat.
9).
Pola reproduksi seksual
Tindakan TURP dapat
menyebabkan impotensi dan ejakulasi retrograd (
Sunaryo, H, 1999 : 36 ).
10). Pola penanggulangan
stres
Cemas dapat
dialami klien karena kurang pengetahuan
tentang perawatan dan komplikasi
pasca TURP. Gali adanya stres pada
klien dan mekanisme
koping klien terhadap stres tersebut.
11). Pola tata
nilai dan kepercayaan
Adanya
traksi kateter memerlukan adaptasi klien dalam
menjalankan ibadahnya.
b.
Dampak bagi keluarga
Dengan adanya salah
satu anggota keluarga yang dirawat di rumah
sakit apalagi sampai tindakan operasi akan
menimbulkan beban keluarga dalam pembiayaan,
terutama bila yang sakit adalah kepala
keluarga, karena akan mempengaruhi sumber
pendapatan keluarga. Dalam keluarga dapat
timbul rasa cemas atau faktor psikologis
lain serta terjadi perubahan peran baik
dalam pengambilan keputusan, mencari nafkah
maupun pelindung keluarga.
c.
Dampak bagi masyarakat
Masyarakat disekitarnya
mungkin merasa kehilangan karena klien
mengurangi interaksi sosial dengan masyarakat
dimana klien bertempat tinggal karena harus
beradaptasi dengan lingkungan baru. Apalagi
kalau klien adalah orang yang berkedudukan
atau berpengaruh dalam lingkungannya.
B.
Asuhan Keperawatan
Proses
keperawatan merupakan proses pemecahan masalah
yang dinamis dengan menggunakan metode
ilmiah secara sistematik untuk mengenal
masalah klien dan mencarikan alternatif
pemecahannya dalam rangka memenuhi
kebutuhan klien guna memperbaiki dan
meningkatkan derajat kesehatan hingga tahap maksimal.
Adapun tahapan dari proses keperawatan
meliputi : pengkajian, perencanaan, pelaksanaan
dan evaluasi (Nasrul, E, 1995 : 3, 4 ).
1.
Pengkajian
Pengkajian adalah pemikiran
dasar dari proses keperawatan yang
bertujuan untuk mengumpulan informasi /
data tentang klien, agar dapat mengidentifikasi,
mengenali masalah, kebutuhan kesehatan dan
keperawatan klien baik fisik, mental,
sosial dan lingkungan ( Nasrul, E,1995 : 18 ).
a. Pengumpulan data
Data yang perlu
dikumpulkan dari klien meliputi :
1).
Identitas klien
Merupakan biodata klien
yang meliputi : nama, umur, jenis
kelamin, agama, suku bangsa / ras, pendidikan,
bahasa yang dipakai, pekerjaan, penghasilan
dan alamat. Jenis kelamin dalam hal
ini klien adalah laki - laki berusia
lebih dari 50 tahun dan biasanya
banyak dijumpai pada ras
Caucasian (Donna, D.I,
1991 : 1743 ).
2).
Keluhan utama
Keluhan
utama yang biasa muncul pada klien
BPH pasca TURP adalah nyeri yang
berhubungan dengan spasme buli - buli.
Pada saat mengkaji keluhan
utama perlu diperhatikan faktor
yang mempergawat atau meringankan nyeri
( provokative / paliative ), rasa
nyeri yang dirasakan (quality),
keganasan / intensitas ( saverity ) dan waktu
serangan, lama, kekerapan (time).
3).
Riwayat penyakit sekarang
Kumpulan gejala yang
ditimbulkan oleh BPH dikenal dengan
Lower Urinari Tract Symptoms ( LUTS )
antara lain : hesitansi, pancar urin
lemah, intermitensi, terminal dribbling,
terasa ada sisa setelah selesai miksi,
urgensi, frekuensi dan disuria (Sunaryo, H,
1999 : 12, 13).
Perlu ditanyakan mengenai
permulaan timbulnya keluhan, hal-hal yang
dapat menimbulkan keluhan dan ketahui pula
bahwa munculnya gejala untuk pertama kali
atau berulang.
4).
Riwayat penyakit dahulu
Adanya riwayat penyakit
sebelumnya yang berhubungan dengan keadaan
penyakit sekarang perlu ditanyakan . Diabetes
Mellitus, Hipertensi, PPOM, Jantung Koroner,
Dekompensasi Kordis dan gangguan faal darah
dapat memperbesar resiko terjadinya
penyulit pasca bedah ( Sunaryo,
H, 1999 : 11, 12, 29 ). Ketahui pula
adanya riwayat penyakit saluran kencing dan
pembedahan terdahulu.
5).
Riwayat penyakit keluarga
Riwayat penyakit pada
anggota keluarga yang sifatnya menurun
seperti : Hipertensi, Diabetes Mellitus,
Asma perlu digali .
6).
Riwayat psikososial
Kaji adanya emosi kecemasan,
pandangan klien terhadap dirinya serta hubungan
interaksi pasca tindakan TURP.
7).
Pola – pola fungsi kesehatan
a).
Pola persepsi
dan tata laksana hidup sehat
Timbulnya perubahan pemeliharaan kesehatan karena
tirah baring selama 24 jam pasca TURP.
Adanya keluhan nyeri karena spasme buli - buli
memerlukan penggunaan anti spasmodik sesuai
terapi dokter (Marilynn. E.D, 2000 : 683).
b).
Pola nutrisi
dan metabolisme
Klien yang di lakukan anasthesi SAB
tidak boleh makan dan minum sebelum
flatus .
c).
Pola eliminasi
Pada klien dapat terjadi hematuri setelah
tindakan TURP. Retensi urin dapat terjadi
bila terdapat bekuan darah pada kateter.
Sedangkan inkontinensia dapat terjadi setelah
kateter di lepas (Sunaryo, H, 1999: 35)
d).
Pola aktivitas dan latihan
Adanya keterbatasan
aktivitas karena kondisi klien yang lemah
dan terpasang traksi kateter selama 6 – 24
jam. Pada paha yang dilakukan perekatan
kateter tidak boleh fleksi selama traksi
masih diperlukan.
e).
Pola tidur
dan istirahat
Rasa nyeri dan
perubahan situasi karena hospitalisasi dapat
mempengaruhi pola tidur dan istirahat.
f).
Pola kognitif perseptual
Sistem Penglihatan,
Pendengaran, Pengecap, peraba dan Penghidu tidak
mengalami gangguan pasca TURP.
g).
Pola persepsi dan konsep diri
Klien dapat mengalami
cemas karena ketidaktahuan tentang perawatan
dan komplikasi pasca TURP.
h).
Pola hubungan dan
peran
Karena klien harus
menjalani perawatan di rumah sakit maka
dapat mempengaruhi hubungan dan peran klien
baik dalam keluarga tempat kerja dan masyarakat.
i).
Pola reproduksi seksual
Tindakan TURP dapat menyebabkan impotensi dan
ejakulasi retrograd ( Sunaryo, H, 1999 : 36
j).
Pola penanggulangan stress
Stress dapat dialami
klien karena kurang pengetahuan tentang perawatan
dan komplikasi pasca TURP. Gali adanya stres pada
klien dan mekanisme koping klien terhadap
stres tersebut.
k).
Pola tata
nilai dan kepercayaan
Adanya
traksi kateter memerlukan adaptasi klien
dalam menjalankan ibadahnya .
8).
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan didasarkan
pada sistem – sistem tubuh antara
lain :
a).
Keadaan umum
Setelah
operasi klien dalam keadaan lemah dan
kesadaran baik, kecuali bila terjadi shock.
Tensi, nadi dan kesadaran pada fase awal ( 6 jam
) pasca operasi harus diminitor tiap jam
dan dicatat. Bila keadaan tetap stabil interval monitoring
dapat diperpanjang misalnya 3 jam sekali
(Tim
Keperawatan RSUD. dr. Soetomo, 1997 : 20 ).
b). Sistem pernafasan
Klien yang menggunakan
anasthesi SAB tidak mengalami kelumpuhan
pernapasan kecuali bila dengan konsentrasi
tinggi mencapai daerah
thorakal atau servikal (Oswari, 1989 : 40).
c).
Sistem sirkulasi
Tekanan darah dapat
meningkat atau menurun pasca TURP. Lakukan
cek Hb untuk mengetahui banyaknya
perdarahan dan observasi cairan (infus, irigasi,
per oral) untuk mengetahui masukan dan haluaran.
d). Sistem neurologi
Pada daerah kaudal
akan mengalami kelumpuhan (relaksasi otot) dan
mati rasa karena pengaruh anasthesi SAB
(Oswari , 1989 : 40).
e). Sistem gastrointestinal
Anasthesi
SAB menyebabkan klien pusing, mual dan
muntah (Oswari, 1989 : 40) . Kaji
bising usus dan adanya massa pada abdomen .
f). Sistem urogenital
Setelah
dilakukan tindakan TURP klien akan
mengalami hematuri . Retensi dapat terjadi bila
kateter tersumbat bekuan darah. Jika terjadi
retensi urin, daerah supra sinfiser
akan terlihat menonjol, terasa ada
ballotemen jika dipalpasi dan
klien terasa ingin kencing (Sunaryo, H ,1999 :
16). Residual urin dapat diperkirakan
dengan cara perkusi. Traksi kateter dilonggarkan
selama 6 - 24 jam (Doddy, 2001 : 6).
g). Sistem muskuloskaletal
Traksi
kateter direkatkan di bagian paha klien.
Pada paha yang direkatan kateter tidak
boleh fleksi selama traksi masih diperlukan.
(Tim Keperawatan RSUD. dr. Soetomo, 1997 : 21).
9).
Pemeriksaan penunjang
a). Laboratorik
Setiap penderita pasca TURP harus di cek kadar
hemoglobinnya dan perlu diulang secara
berkala bila urin tetap merah dan perlu di
periksa ulang bila terjadi penurunan tekanan darah dan
peningkatan nadi. Kadar serum kreatinin juga
perlu diulang secara berkala terlebih lagi
bila sebelum operasi kadar kreatininnya meningkat. Kadar
natrium serum harus segera diperiksa bila
terjadi sindroma TURP. Bila terdapat tanda septisemia harus
diperiksa kultur urin dan kultur
darah ( Tim Keperawatan RSUD. dr. Soetomo,
1997 : 21 ).
b). Uroflowmetri
Yaitu
pemeriksaan untuk mengukur pancar urin.
Dilakukan setelah kateter dilepas ( Lab / UPF Ilmu bedah
RSUD dr. Soetomo, 1994 : 114).
b. Analisa dan sintesa data
Setelah
data dikumpulkan, dikelompokkan dan dianalisa
kemudian data tersebut dirumuskan ke dalam
masalah keperawatan . Adapun masalah yang mungkin
terjadi pada klien BPH pasca TURP
antara lain : nyeri, retensi urin,
resiko tinggi infeksi, resiko tinggi kelebihan cairan, resiko
tinggi ketidakefektifan pola napas, resiko tinggi
kekurangan cairan, kurang pengetahuan,
inkontinensia dan resiko tinggi disfungsi seksual
.
c. Diagnosa keperawatan
Berdasarkan analisa
data yang diperoleh maka dapat dirumuskan
diagnosa keperawatan pada klien BPH
pasca TURP sebagai berikut :
1).
Nyeri ( akut ) berhubungan dengan iritasi
mukosa buli
–
buli : reflek spasme otot sehubungan
dengan prosedur bedah dan / atau tekanan
dari traksi.
( Marilynn, E.D, 2000 : 683 )
2).
Resiko tinggi kekurangan cairan berhubungan dengan
kehilangan darah berlebihan .
3).
Resiko tinggi kelebihan cairan yang berhubungan dengan absorbsi cairan
irigasi (TURP).
4).
Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan
dengan kateter di buli – buli.
5).
Resiko tinggi terhadap ketidakefektifan pola
napas yang berhubungan anastesi .
6).
Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan
kurang informasi tentang rutinitas pasca
operasi, gejala untuk dilaporkan, perawatan
di rumah dan intruksi evaluasi .
( Susan, M . T,
1998 : 609,610 )
7).
Retensi urin berhubungan dengan obstruksi
sekunder dari TURP .
8).
Inkontinensia urin berhubungan dengan
pengangkatan kateter pasca TURP .
9). Resiko tinggi disfungsi
seksual berhubungan TURP.
(Barbara, C.L, 1996: 339,341)
2.
Perencanaan
Rencana asuhan
keperawatan adalah petujuk tertulis yang menggambarkan secara tepat
mengenai rencana tindakan yang dilakukan terhadap klien sesuai dengan
kebutuhannya berdasarkan diagnosa keperawatan. Penyusunan
rencana melibatkan klien secara optimal agar
dalam pelaksanaan asuhan
keperawatan terjalin suatu kerjasama
dalam rangka proses pencapaian tujuan
keperawatan.
Langkah
awal perencanaan adalah menetapkan prioritas diagnosa
keperawatan. Penentuan skala prioritas diagnosa
keperawatan adalah dengan menilai klien sebagai
mahluk bio-psiko-sosial-spiritual berdasarkan tingkat
kebutuhan menurut Maslow dengan kategori: keadaan yang mengancam kehidupan,
mengancam kesehatan, dan persepsi tentang
kesehatan dan keperawatan (Nasrul, E.F, 1995:34-36).
a.
Resiko tinggi ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan
anastesi.
1). Tujuan
Pola napas tetap
efektif
2). Kriteria hasil
Paru-paru bersih pada
auskultasi, frekuensi dan irama napas dalam batas normal, melakukan batuk dan
napas dalam tanpa kesulitan.
3).
Rencana tindakan dan rasional
a). Bantu klien dengan spirometer
insentif jika dianjurkan.
Rasional:
memaksimalkan ekspansi paru.
b). Ajarkan dan bantu
klien untuk membalik, batuk, dan napas dalam tiap 2 jam.
Rasional:
merupakan upaya untuk mengeluarkan sekret.
c). Kaji bunyi napas
tiap 4 jam.
d).
Laporkan penurunan atau tidak adanya bunyi napas
pada tim medis.
e). Kaji kulit
terhadap tanda sianosis dan diaforesis.
f). Pantau dan laporkan gejala
gangguan pertukaran gas kacau.
Rasional : (c, d, e,
f): deteksi dini ketidakefektifan pola napas.
g).
Berikan obat penghilang nyeri dengan interval
yang tepat untuk mengurangi nyeri.
Rasional:
berkurang / hilangnya nyeri dapat membantu klien melakukan latihan batuk dan
napas dalam secara efektif.
b.
Resiko tinggi kekurangan cairan yang berhubungan dengan kehilangan darah
berlebihan.
1).
Tujuan
Keseimbangan cairan tubuh tetap terpelihara.
2).
Kriteria hasil
Mempertahankan
hidrasi adekuat dibuktikan dengan: tanda -tanda vital stabil,
nadi perifer teraba, pengisian perifer baik,
membran mukosa lembab dan keluaran
urin tepat.
3). Rencana tindakan dan rasional
a).
Benamkan kateter, hindari manipulasi berlebihan.
Rasional :
gerakan penarikan kateter dapat menyebabkan
perdarahan atau pembentukan bekuan darah
dan pembenaman kateter pada distensi
buli-buli.
b). Pantau masukan dan
haluaran cairan.
Rasional: indikator
keseimangan cairan dan kebutuhan penggantian.
c). Observasi drainase
kateter, hindari manipulasi berlebihan atau berlanjut.
Rasional :
perdarahan tidak umum terjadi 24 jam pertama
tetapi perlu pendekatan perineal. Perdarahan kontinu /
berat atau berulangnya perdarahan aktif
memerlukan intervensi / evaluasi medik.
d). Evaluasi warna,
konsistensi urin, contoh :
Merah terang dengan
bekuan darah
Rasional :
mengindikasikan perdarahan arterial dan memerlukan terapi cepat.
Peningkatan
veskositas, warna keruh gelap dengan bekuan gelap.
Rasional : menunjukkan
perdarahan vena, biasanya berkurang sendiri.
e).
Awasi tanda-tanda vital, perhatikan peningkatan nadi
dan pernapasan, penurunan tekanan darah, diaforesis, pucat, pelambatan
pengisian kapiler dan membran mukosa kering.
f). Selidiki
kegelisahan, kacau mental dan perubahan perilaku.
Rasional
: dapat menunjukkan
penurunan perfusi serebral.
g).
Dorong pemasukan cairan 3000 ml/harikecuali kontraindikasi.
Rasional : membilas gonjal / buli-buli dari
bakteri dan debris. Awasi dengan ketat karena dapat mengakibatkan
intoksikasi cairan.
h). Hindari pengukuran
suhu rektal dan penggunaan selang rektal / enema.
Rasional :
dapat mengakibatkan penyebaran iritasi
terhadap dasar prostat dan peningkatan kapsul prostat
dengan resiko perdarahan.
i). Kolaborasi
dalam memantau pemeriksaan laboratorium sesuai
indikasi, contoh:
Hb / Ht,
jumlah sel darah merah.
Rasional
: berguna dalam evaluasi kehilangan
darah/kebutuhan penggantian.
Pemeriksaan koagulasi,
jumlah trombosi
Rasional
: dapat mengindikasikan
terjadinya komplikasi misalnya penurunan faktor
pembekuan darah, KID.
j). Pertahankan traksi
kateter menetap, plester kateter di bagian paha dalam.
Rasional
: traksi kan membuat
tekanan pada aliran darah di kapsul prostat untuk membantu mencegah
/ mengontrol perdarahan.
k). Kendorkan traksi dalam 6 - 24
jam. Catat periode pemasangan dan pengendoran
traksi, bila diperlukan.
Rasional :
traksi lama dapat menyebabkan
trauma / masalah permanen dalan mengotrol
urin.
l). Berikan
pelunak feses, laksatif sesuai indikasi.
Rasional :
pencegahan konstipasi / mengejan untuk defekasi
menurunkan resiko perdarahan rektal-perineal.
c.
Resiko tinggi terjadinya kelebihan cairan yang berhubungan dengan
absorbsi cairan irigasi (TURP).
1).
Tujuan
Keseimbangan cairan
tetap terpelihara.
2).
Kriteria hasil
Masukan dan haluaran seimbang, irigan
keluar secara total, sadar penuh, berorientasi, dan menunjukkan tak ada
abnormalitas fungsi motorik.
3).
Rencana tindakan dan rasional
a).
Pantau dan laporkan tanda dan gejala difusi hiponatremia.
Rasional : Hiponatremi adalah tanda kelebihan
cairan.
b).
Pantau masukan dan haluaran tiap 4 -
8 jam.
Rasional :
indikator keseimbangan cairan dan kebutuhan penggantian.
c).
Hentikan irigasi saat saat tanda kelebihan cairan terjadi
dan laporkan tim medis.
Rasional :
mencegah absorbsi yang berlebihan.
d).
Gunakan spuit untuk mengirigasi kateter
oleh bekuan darah jika diinstruksikan.
Rasional: mencegah terjadinya retensi
d.
Retensi urin berhubungan dengan obstruksi
sekunder dari TURP.
1).
Tujuan
Retensi
urin teratasi.
2).
Kriteria hasil
Eliminasi urin kembali normal, menunjukkan
perilaku peningkatan kontrol buli-buli.
3).
Rencana tindakan dan rasional
a).
Awasi masukan dan haluaran serta
karakteristiknya.
Rasional:
deteksi dini terjadinya retensi urin.
b).
Kolaborasi dalam mempertahankan irigasi secara
konstan selama 24 jam pertama.
Rasional:
mencuci buli-buli dari bekuan darah dan debris untuk
mempertahankan patensi kateter / aliran urin.
c).
Dorong pemasukan 3000 ml / hari
sesuai toleransi.
Rasional:
mempertahankan hidrasi adekuat dan perfusi
ginjal untuk aliran urin.
d).
Setelah kateter diangkat, terus pantau gejala-gejala retensi.
Rasional:
deteksi dini terjadinya retensi.
e.
Resiko tinggi terhadap infeksi
berhubungan dengan kateter di buli - buli.
1).
Tujuan
Infeksi dicegah.
2).
Kriteria hasil
Mencapai waktu penyembuhan,
tidak mengalami tanda infeksi.
3).
Rencana tindakan dan rasional
a).
Pertahankan sistem kateter steril, berikan
perawatan kateter reguler dengan sabun dan
air, berikan salep antibiotik disekitar
sisi kateter.
Rasional:
mencegah pemasukan bakteri dan infeksi /
sepsis lanjut.
b).
Ambulasi dengan kantung drainase dependen.
Rasional: menghindari
reflek balik urin dapat memasukkan bakteri ke
dalam buli - buli.
c).
Awasi tanda dan gejala infeksi saluran
perkemihan.
Rasional:
mendeteksi infeksi sejak dini.
d).
Berikan antibiotik sesuai indikasi.
Rasional:
kemungkinan diberikan secara profilaktik berhubungan
dengan peningkatan resiko pada prostatektomi.
f.
Nyeri (akut) berhubungan dengan
iritasi mukosa buli-buli: reflek spasme otot sehubungan
dengan prosedur bedah dan / atau tekanan
dari traksi.
1).
Tujuan
Nyeri
hilang / terkontrol.
2).
Kriteria hasil
Klien
melaporkan nyeri hilang / terkontrol,
menunjukkan ketrampilan relaksasi dan
aktivitas terapeutik sesuai indikasi untuk
situasi individu. Tampak rileks, tidur /
istirahat dengan tepat.
3).
Rencana tindakan dan rasional
a)
Kaji nyeri, perhatikan lokasi, intensitas ( skala
0 - 10 ).
Rasional:
nyeri tajam, intermitten dengan dorongan
berkemih / masase urin sekitar kateter
menunjukkan spasme buli-buli, yang cenderung
lebih berat pada pendekatan TURP ( biasanya menurun
dalam 48 jam ).
4).
Pertahankan patensi kateter dan sistem drainase. Pertahankan
selang bebas dari lekukan dan bekuan.
Rasional:
mempertahankan fungsi kateter dan drainase
sistem, menurunkan resiko distensi / spasme
buli - buli.
5).
Tingkatkan pemasukan sampai 3000 ml/hari
sesuai toleransi.
Rasional:
menurunkan iritasi dengan mempertahankan
aliran cairan konstan mukosa buli - buli.
6).
Berikan tindakan kenyamanan ( sentuhan
terapeutik, pengubahan posisi, pijatan punggung
) dan aktivitas terapeutik. Dorong tehnik
relaksasi termasuk latihan napas dalam,
visualisasi dan pedoman imajinasi.
Rasional:
menurunkan tegangan otot, memfokusksn kembali
perhatian dan dapat meningkatkan kemampuan
koping.
7).
Berikan rendam duduk atau lampu penghangat
bila diindikasikan.
Rasional:
meningkatkan perfusi jaringan dan perbaikan
edema serta meningkatkan
penyembuhan ( pendekatan
perineal ).
8).
Kolaborasi dalam pemberian antispasmodik, contoh:
Oksibutinin
klorida ( Ditropan ), B dan O supositoria.
Rasional:
relaksasi otot, untuk menurunkan spasme dan
nyeri.
Propanteli
bromida ( Pro-Bantanin ).
Rasional:
menghilangkan spasme buli-buli oleh kerja
antikolinergik. Biasanya dihentikan 24-48 jam
sebelum perkiraan pengangkatan kateter
untuk
meningkatkan kontrol kontraksi buli-buli.
g.
Inkontinensia urin berhubungan dengan pengangkatan kateter
pasca TURP.
1).
Tujuan
Inkontinensia
dapat teratasi
2). Kriteria hasil
Eliminasi
urin kembali normal, menunjukkan perilaku
meningkatkan kontrol berkemih.
3).
Rencana tindakan dan rasional
a).
Kaji terjadinya tetesan urin setelah
kateter diangkat.
Rasional:
mendeteksi inkontinensia.
b).
Bila terjadi tetesan :
(1).
Katakan pada klien bahwa hal tersebut
biasa dan kontinen akan pulih.
Rasional
: klien harus
dibesarkan harapannya bahwa itu normal.
(2). Penyuluhan
latihan perineal.
Rasional
: bantuan uantuk pengendalian
kandung kemih.
h.
Resiko tinggi disfungsi seksual berhubungan dengan TURP.
1). Tujuan
Fungsi
seksual dapat dipertahankan
2).
Kriteria hasil
Klien tampak rileks dan
melaporkan ansietas menurun sampai tingkat
dapat diatasi
3). Rencana tindakan dan
rasional
a).
Berikan keterbukaan pada klien/orang dekat
untuk membicarakan tentang masalah fungsi
seksual.
Rasional
: klien dapat mengalami cemas
karena efek bedah yang dapat mempengaruhi kemampuan
untuk menerima informasi.
b).
Berikan informasi tentang harapan kembalinya
fungsi seksual.
Rasional
: impotensi fisiologis terjadi bila saraf perineal
dipotong selama prosedur radikal : pada
pendekatan lain, aktivitas seksual dapat
dilakukan seperti biasanya selama 6 - 8 minggu.
c).
Diskusikan dasar anatomi dan jujur dalam
menjawab pertanyaan klien
Rasional :
saraf pleksus mengontrol aliran secara
posterior ke prostat melalui kapsul. Pada
prosedur yang tidak melibatkan kapsul
prostat, imponten dan sterilitas biasanya
tidak menjadi kosekuensi. Prosedur bedah
bukan merupakan pengobatan permanen, sehingga
hipertropi dapat berulang.
d).
Diskusikan tentang ejakulasi retrograd.
Rasional :
ejakulai retrograd tidak mempengaruhi fungsi
seksual, tetapi akan menurunkan kesuburan
dan menyebabkan urin keruh.
e).
Instruksikan latihan perineal dan interupsi /
kontinu aliran urin.
Rasional :
meningkatkan kontrol otot
kontinensia
urinaria dan fungsi seksual.
f).
Rujuk ke penasehat seksual sesuai indikasi.
Rasional :
masalah menetap / tidak teratasi memerlukan
intervensi profesional.
i.
Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurang
informasi tentang rutinitas pasca operasi, gejala untuk
dilaporkan, perawatan di rumah dan intruksi
evaluasi.
1).
Tujuan
Meningkatkan
pengetahuan klien.
2).
Kriteria hasil
Klien dan / atau
keluarga mengungkapkan mengerti tentang rutinitas
pasca operasi, gejala yang harus dilaporkan, perawatan
di rumah, intruksi evaluasi serta
demonstrasi ulang perawatan kateter
dan latihan perineal.
3).
Rencana tindakan dan rasional
a).
Pertegas perlunya asupan cairan oral yang
adekuat 3000 ml / hari kecuali kontra indikasi.
Rasional:
hidrasi yang optimal membantu menegakkan
kembali tonus otot buli – buli setelah
pencabutan kateter dengan merngsang miksi,
pengenceran urin dan menurunkan kerentanan
infeksi saluran kemih dan pewmbentukan
bekuan darah.
b).
Ajarkan perawatan kateter :
(a).
Cuci meatus urinarius dengan
sabun dan air 2x / hari.
(b).
Tingkatkan frekuensi pembilasan jika tampak jelas
drainase di sekitar tempat pemasangan
kateter.
Rasional:
membantu mengurangi resiko infeksi saluran
kencing.
c).
Pertegas pembatasan aktivitas antara lain:
(1).
Hindari mengedan saat BAB, tingkatkan
asupan diit tinggi serat atau gunakan
pencahar jika ada indikasi.
(2).
Jangan gunakan supositoria atau enema.
(3). Hindari duduk dengan kaki
tergantung.
(4). Hindari
mengangkat benda berat dan aktivitas
yang berat.
(5).
Hindari hubungan seksual hingga
diperbolehkan ( biasanya 6 - 8 minggu setelah
pembedahan ).
Rasional:
mengurangi resiko perdarahan internal.
d).
Anjurkan klien melakukan hal berikut:
(1). Berjalan
lama.
(2). Menggunakan tangga.
Rasional: aktivitas ini tidak
menghalangi penyembuhan tempat pembedahan.
e).
Jelaskan harapan untuk mengontrol urin
ketika dicabut:
(1). Tetesan,
frekuensi, urgensi mungkin terjadi pada
awal tetapi secara bertahap.
(2). Latihan
perineal ( bokong tegang, tahan dan
lepaskan selama 10 - 20 menit tiap jam )
dapat membantu mempercepat memulihkan kontrol
urin.
(3). Lakukan
latihan sesuai toleransi, hindari latihan
yang membutuhkan kekuatan otot dan
rencanakan waktu istirahat sering.
(4). Berkemih
sesegera mungkin, mencegah retensi urin.
(5). Menghindari
kafein dan alkohol dapat membantu mencegah
masalah.
(6). Hematuri
transien adalah normal dan seharusnya
menurun dengan peningkatan asupan cairan.
Rasional: Kesukaran untu melanjutkan
pola miksi normal dapat berhubungan dengan
trauma leher buli-buli, ISK, atau iritasi
kateter. Drainase akan menurunkan kontrol
otot. Kafein sebagai diuretik ringan
membuatnya lebih sukar mengontrol urin.
Alkohol meningkatkan sensasi terbakar.
f).
Diskusikan nama obat, dosis, jadwal penggunaan,
tujuan dan efek samping.
Rasional:
klien mengetahui nama, dosis, jadwal, tujuan dan
efek samping obat yang diresepkan.
g).
Tinjau tanda dan gejala komplikasi:
(1).
Ketidakmampuan berkemih lebih dari 6 jam.
(2). Menggigil,
nyeri punggung dan demam.
(3). Peningkatan
hematuri.
Rasional:
deteksi awal memungkinkan intervensi cepat
untuk meminimalkan keparahan komplikasi.
(a).
Ketidakmampuan berkemih menunjukkan ISK.
(b). Merupakan
gejala ISK.
(c).
Adanya perdarahan.
3. Pelaksanaan
Pelaksanaan adalah
pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang
telah disusun pada tahap perencanaan dengan
tujuan untuk memenuhi kebutuhan klien secara
optimal. Pada tahap ini perawat menerapkan
pengetahuan intelektual, kemampuan hubungan antar
manusia (komunikasi) dan kemampuan tehnis
keperawatan dengan berfokus pada pertahanan
daya tahan tubuh, pencegahan komplikasi, penemuan
perubahan sistem tubuh pemantapan hubunngan
klien dengan lingkungan, implementasi pesan tim medis serta
mengupayakan rasa aman, nyaman dan
keselamatan klien.
Tindakan keperawatan dapat diberikan secara mandiri oleh
perawat, kolaborasi dengan sesama tim
perawatan atau tim kesehatan lainnya
maupun atas dasar rujukan dari
profesi lain (Nasrul, E, 1995: 40 - 44).
Adapun
tindakan yang dilakukan pada klien BPH pasca TURP
disesuaikan dengan rencana tindakan yang telah
ditetapkan pada perencanaan.
4. Evaluasi
Evaluasi
merupakan perbandingan yang sistematik dan
terencana mengenai kesehatan klien dengan
tujuan yang telah ditetapkan dan dilakukan
secara berkesinambungan dengan melibatkan klien dan tenaga
kesehatan lainnya. Penilaian dalam keperawatan
bertujuan untuk mengetahui pemenuhan
kebutuhan klien secara optimal dan mengukur
hasil dari proses keperawatan (Nasrul, E, 1995: 46).
Perawatan
spesifik pada klien BPH pasca TURP dievaluasi atas
dasar hasil yang diharapkan dari klien,
antara lain :
a.
Menunjukkan pola napas efektif, tidak
terjadi perdarahan yang berlebihan serta
sindroma TURP.
b.
Pola berkemih normal tanpa disertai infeksi atau komplikasi permanen.
c.
Tidak ada pengalaman nyeri atau
tekanan yang berkepanjangan.
d.
Mampu menjelaskan kembali penjelasan perawat tentang
pembatasan aktivitas, diit serta tanda dan
gejala komplikasi. Dan memperagakan
perawatan kateter serta latihan kontrol berkemih.
e.
Menunjukkan penyesuaian psikososial yang disebabkan karena
disfungsi seksual.
DAFTAR
PUSTAKA
Alif, S., 1995. Benigne Prostate Hiperplasia, Makalah.
Surabaya.
Doenges, M.E., Marry,
F..M and Alice, C.G., 2000. Rencana
Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan
Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta,
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Data Urologi Impatient,
1999. SMF Urologi RSUD. dr. Soetomo.
Surabaya.
Effendi, N.,
1995. Pengantar Proses
Keperawatan. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Hardjowidjoto, S.
1993. Anatomi
Fisiologi Traktus
Urogenital. Surabaya, Program Studi Urologi
Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga / RSUD. dr.
Soetomo.
1999. Benigna Prostat
Hiperplasi. Surabaya, Airlangga University Press.
Ignatavicus, D.D
and Marilyn, F.B., 1991.
Medical Surgical Nursing : A Nursing Procces Approach.
International Edition. Philadelpia, W.B Saunders
Company.
Kirby, R, John F.P, Michael,
K, Andrew, F.P and Louis, J.D., 1994. Shared Care For Prostatic Disease. Oxford,
ISIS Medical Media.
Long, B.C.,
1996. Perawatan Medikal
Bedah : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan.
Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Lab / UPF
Ilmu Bedah, 1994. Pedoman
Diagnosis Dan Terapi. Surabaya, Fakultas Kedokteran
Airlangga / RSUD. dr. Soetomo.
Lismidar, H., 1989. Proses keperawatan. Jakarta, Universitas
Indonesia.
Ndraha
Taliziduhu, Dr., 1985. Research
: Teori, Metodologi, Administrasi. Jakarta, PT.
Bina Aksara. Anggota IKAPI.
Oswari, Dr. 1989. Bedah Dan Perawatannya.
Jakarta, PT. Gramedia. Anggota IKAPI.
Soebandi, D.M., 2001. Benign Prostate Hyperplasia :
Permasalahan, Perawatan Dan Pembedahan. Seminar Keperawatan.
Surabaya, SMF Urologi Lab. Ilmu Bedah RSUD. dr.
Soetomo.
Surabaya
Post. Tanggal 7 Juni 2001. Hal. 20. Kolom 2, BPH, Pembesaran Prostat
Yang Tak Terelakkan.
Tucker, S.M.,
Marry, M.C, Eleanor, V, Paquette, M and Fyfe, W., 1998.
Standar Perawatan Pasien :
Proses Keperawatan, Diagnosis Dan Evaluasi. Volume
III. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Tim
Keperawatan RSUD. dr. Soetomo, 1997. Standar Asuhan
Keperawatan Penyakit Bedah.
Surabaya, Bidang Perawatan RSUD. Dr. Soetomo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar